Timber Engineering

Dr. Ali Awaludin, Timber and Structural Engineer

Banner Shadow

Lecture

Rumah Kayu

Foto

Report

Hasil pengujian LVL Paraserianthes falcataria (Sengon) untuk perencanaan sambungan. Pengujian yang dilakukan meliputi: kuat tekan tegak lurus serat (compression perpendicular-to-grain), kuat cabut paku (nail withdrawal capacity) , kuat tumpu pasak (dowel bearing strength), sambungan geser plywood-LVL dengan paku dan sekrup untuk pembeban monotonik dan siklik (Nailed or screwed sheathing-to-frame connection).

Report bisa diunduh di LVL

===================================

Penelitian sifat-sifat fisika dan mekanika kayu Glugu dan Sengon kawasan Merapi dalam rangka mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat Merapi pasca letusan Merapi 2010

Pendahuluan

Letusan gunung Merapi yang terjadi pada tanggal 26 Oktober dan 5 November 2010 telah menyebabkan rusaknya wilayah permukiman penduduk Merapi khususnya yang berada pada radius sekitar 10 Km dari puncak Merapi. Proses rehabilitasi atau relokasi perlu direncanakan dengan pemanfaatan optimal potensi sumber daya alam lereng Merapi. Misalnya, untuk pemenuhan kebutuhan shelter semi-permanen atau permanen, kayu Glugu (Cocos nucifera) dan Sengon (Paraserianthes falcataria) dapat digunakan sebagai bahan utama mengingat hasil survei di lokasi bencana tanggal 28 November 2010 menunjukkan ketersediaan kayu Glugu dan Sengon yang sangat mencukupi.

Penggunaan bahan baku kayu lokal untuk masa-masa yang akan datang tentunya akan memberi dampak ekonomi yang sangat positif bagi masyarakat lereng Merapi. Selain itu kayu merupakan bahan konstruksi yang ramah lingkungan, terbaharukan, dapat terurai secara alami, dan juga sangat cocok untuk daerah yang sering terjadi bencana. Agar pemanfaatan kayu Glugu dan Sengon di kawasan lereng Merapi dapat optimal, maka sifat-sifat fisika dan mekanika kayu khas Merapi perlu diketahui melalui pengujian laboratorium mengunakan sampel yang tumbuh di kawasan lereng Merapi.

Selengkapnya ada di Kayu Glugu dan Sengon Merapi